Baju Merah Terus?

Kemana-mana meraaaah, padahal dresscode hari ini adalah orange, maafkan ya ibu-ibu Forsil Wanoja saya nggak ikutan dresscode hehehe

Sepintas udah tahu kan ya warna orange itu adalah warna dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan apakah artinya saya orang PKS karena ada disana?

Ah, saya mau cerita dulu deh yaa, tentang perkenalan saya dengan partai ini, berawal dari Sekolah Perempuan (SP) yang saya dirikan tahun 2013 dan salah satu pembinanya adalah Ibu Dina Sudjana, beliau lalu mengenalkan Ibu Rita Soekandar karena konsen SP di bidang perempuan hingga akhirnya SP dikunjungi oleh Ibu Ledia Hanifa Amaliah seorang perempuan yang membidangi pemberdayaan perempuan di MPR RI, masya Allah.

Koneksi yang tidak pernah terputus, shilaturahmi yang terus terpupuk, hingga Bu Rita mengajak SP hadir di acara Ibu @Siti Munthamah Oded, yang saat itu menjadi Ibu Wakil Walikota Bandung. Sungguh dalam acara itu saya terpesona dengan sosok Ibu Siti atau akrab dipanggil Umi Siti tersebut lantas menuliskan profil beliau di kompasiana dengan judul: Memiliki 7 Anak Tanpa Asisten Rumah Tangga. Siapa yang menduga bahwa beritanya dibaca ribuan orang dan dishare terus menerus meski membuat pro kontra karena beberapa diantara pembaca merasa bahwa itu tidak mungkin dilakukan. Saya lalu dihubungi oleh Umi Oded dan kami jadi sahabat baik, menulis buku bersama dengan judul: Wanita Mencipta Surga, dan hingga kini masih saling mengunjungi di sela-sela kesibukan kami bahkan meski beliau kemudian menjadi istri Wali Kota Bandung dan Anggota Dewan, Masya Allah…

Pembelajaran politik mulai dikenalkan oleh Umi Siti pada saya meski saya kerapkali menolak mempelajarinya, “Saya nggak paham dan politik sangat rumit!” namun saya tidak pernah menolak untuk hadir di acara-acara yang diselenggarakan oleh PKS. Kenapa? sebab saya merasa banyak ilmu yang saya dapatkan untuk menunjang kehidupan berkeluarga, berumahtangga, hingga mendidik anak.

Seperti hari ini, banyak insight saya dapatkan mengenai perempuan yang harus hadir sebagai pendidik sehingga harus cerdas bertaqwa, cerdik berwibawa, serta menjadi tiang agama dan negara, sebab perempuan sebagai ibu, madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Perempuan yang lembut bisa menjadi penyebar Islam penuh kehangatan, kasih sayang, dan jauh dari kata ekstrim. Maka, akan luar biasa pengaruh dan daya dorong dari perempuan untuk umat jika mereka hadir sebagai kebaikan, kebijaksanaan, dan pembuka jalan kemudahan bagi yang sedang kesulitan.

Dikaitkan dengan apa yang disampaikan tadi siang, saya jadi semakin semangat untuk bergerak bersama perempuan lain, saya ingin menjadi daya ungkit, daya dorong, daya energi untuk perempuan Indonesia lainnya melalui program Sekolah Perempuan, Indscript, komunitas perempuan hingga yang terbaru Kawan bebenah. Apa itu kawan bebenah? Kami memiliki misi menciptakan suasana rumah keluarga Indonesia yang nyaman, hangat, dan solutif. Memang apa yang dilakukan? saya akan mendampingi para ibu untuk menata rumah sesuai dengan kebutuhan dan budget hemat, bismillah semoga semua yang dilakukan saat ini bisa menjadi syiar ala saya bagi perempuan lain.

Soal pendidikan keluarga dan anak, saya benar-benar belajar dari PKS apalagi dengan konsep barunya berkolaborasi dengan para tokoh perempuan dengan nama Forsil Wanoja dan taglinenya Hangat Bersahabat, aaaah seneng banget dengan konsep ini berasa sedang dipeluuuk sama Bu Ledia, Bu Rita, Bu Dina, Umi Siti, dan semua perempuan seluruh Indonesia, berpelukaaaaan

Insya Allah kami akan jadi sahabat baik selamanya, perempuan akan selalu berkolaborasi membangun peradaban dunia, menjadi role model sesama perempuan, menjadi inspirator generasi penerus bangsa yaitu anak-anak di dalam sebuah keluarga.

Salam saling menginspirasi dengan menulis,

Indari Mastuti

Kawanmu bebenah rumah dan bebenah hati, eaaaaa

Penulis buku sekaligus content creator buat emak-emak

Leave a Comment